10 Juni 2011

tafsir surah at tin

A.PENDAHULUAN

Al-Quran merupakan kitab suci yang mulia. Kesuciannya tidak tercemari sedikit pun oleh campur tangan makhluk.kemuliannya tidak mampu di tandingi oleh semua kitabyang ada di bimi ini. Walaupun seluruh makhluk berkumpul dan membuat rekayasa untuk membuat tandingan terhadap Al Quran niscaya mereka tidak akan mampu membuatnya walaupun satu ayat.
Tidak semua orang mempunyai kemampuan untuk dapat menafsirkan ayat ayat Al Quran yang luhur dan mulia. Untuk menafsirkan ayat-ayat Al Quran ,seseorangmembutuhkan seperangkat ilmu yang cukup sehingga ia dapat menggali dan mengurai kandungan ayat- ayat tersebut.
Pada kesempatan kali ini kami akan mempresentase kandungan surah At Tin ayat 1 sampai 6. Surah ini mengandung sumpah Allah, bahwa Allah telah menciptakan keadaan dan bentuk manusia yang sangat indah dan mungkin Allah akan mengembalikannya manusia itu ke dalam keadaan yang sangat rendah. Allah telah menciptakan manusia degan fitrah yang sangat baik, namun karena mengikuti hawa nafsu, manusia terjerumus ke dalam kancah kerendahan.


B. PENGERTIAN SURAH AT-TIN
Surah At Tin adalah surah yang ke-95, setelah surah Alam Nasyrah, dari segi urutannya dalam mush-haf. Namun, dari segi urutan turunnya, surah ini merupakan wahyu ke 27 yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW.
Menurut pendapat Al Imam Muhammad Abduh, bahwa yang dimaksud dengan tin di sini ialah periode manusia yang pertama, yaitu di ketika bernaung dengan daun tin mendiami taman yang indah.Kalau demikian makna ayat ini ialah” Demi masa waktu Adam dan Hawamenutupi auratnya dengan daun Tin”.

C. TAFSIR AYAT 1- 6 SURAH AT TIN
 • 
1. demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun

Huruf wa pada kalimat wa at-tin adalah salah satu huruf yang digunakan untuk bersumpah, sebagaimana hal nya huruf ba’ dan ta’ huruf-huruf tersebut diterjemahkan “demi”.
Banyak hadis menekankan keharusan seorang muslim bersumpah dengan nama, sifat, atauperbuatan Allah dan bahwa seseorang tidak diperkenankan bersumpah atas nama makhluk, betapapun mulia dan agung orang tersebut. Tetapi, dalam surah ini dan banyak surah yang lainnya,Allah bersumpah atas nama makhluknya. Mengapa? Ada dapat mengatakan bahwa Allah bebas melakukan apa saja yang dikehendaki.
Sumpah Allah yang ada dalam Al Quran berfungsi sebagai argumentasi, karena itu, Allah memilih sesuatu yang mempunyai kaitan erat dengan kandungan sumpah-Nya. Dalam surah at tin ini Allah memilih empat hal, masing-masing At-Tin, Az-Zaitun, Thur Sinin dan Al Bald Al- Amin, .
Menurut pendapat al- Ustadzul Imam Muhammad Abduh,bahwa yang di ketahui dengan zitun di sini ialah masa xaitun , yaitu masa Nabi Nuh dan keturunannya, di ketika Allah membinasakan kaum Nuh itu dengan topan dan menyelamatkan Nuh dengan sebuah bahtera . Sudah beberapa lama masanyadatanglah burung bembawa sehelai daun zaitun.karen-Nya Nuh pun bergembira karena Allah telah mengizinkan bagi bumi meresap airnya hingga bumi itu dapat didiami kembalioleh manusia.
Ringkasnya, ti dan zaitun ini mengingatkan kita masa Adam sebagai bapak manusia yang pertamadan masa Nuh sebagai bapak manusia yang ke dua.
  
2. dan demi bukit Sinai

Dan Allah bersumpah dengan Thursina, tempat Musa bermunajat kepada Allah:
   
3. dan demi kota (Mekah) ini yang aman,

Allah bersumpah dengan Negeri tempat kelahiran Muhammad yang telah dimuliyakan dengan menempatkan al Baitul Haram di sana.
Allah bersumpah dengan 4 macam ini yang masing-masing mempunyai sejarah sendiri-sendiri dan pada ketika itulah Allah melepaskan manusia dari kegelapan untuk diantarkan mereka kepada nur cahaya.
      
4. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya .
Kata kholaqna yang artinya” telah kami ciptakan “ terdiri atas khalaqa dan na yang berfungsi sebagai kata ganti nama. Jadi kata ini terulang di dalam Al Quaran sebanyak 24 kali. Kata khalaqa antara lain berarti “menciptakan”, mengukur”, dan “mengatur”. Sedangkan kata na yang menjadi kata ganti nama itu menunjuk kepada bentuk jamak, tetapi bisa pula dipakai untuk menunjuk satu pelaku saja dengan maksud mengagumkan pelaku tersebut,para raja biasanya menunjuk dirinya dengan menggunakan kata “kami”. Allah juga sering kali menggunakan kata tersebut menunjuk diri-Nya.
Dari segi lain, penggunaan kata ganti bentuk jamak(kami) yang menunjukkan kepada Allah mengisyaratkan adanya keterlibatan selain-Nya dalam perbuatan yang di tunjukoleh kata yang dirangkaikan dengan kata ganti tersebut. Jadi khalaqna mengisyaratkan keterlibatan selain Allah dalam penciptaan manusia. Terlebih dahulu perlu kita ketahui siapa yang di maksud Al insan atau “manusia” pada ayat ke empat ayat ini, dan apa maksud ahsan taqwim .
Bahkan Bint Asy- Syathi’ merumuskan bahwa semua kata al-insan dalam Alquran yang berbentuk definite(menggunakan kata sandang al berarti menegaskan jenis manusia secara umum, mencakup siapa saja.
Kata taqwim diartikan sebagai”menjadikan sesuatu memiliki qiwam atau bntuk fisik yang pas dengan fungsinya.
Manusia tak menyadari keistimewaan yang menyangka bahwa dirinya sama dengan makhluk yang lain. Maka dari itu dia mengerjakan apa yang tidak dibenarkan oleh akal dan tidak disukai o;eh fitrahnya.
Kembali kepada persoalan khalaqa , anda mungkin bertanya, kalau demikian apakah ada pencipta selain Allah? Alquran menjawab “ada”, Allah sendiri melalui Alqran, menggaris bawahi ketika berbicara tentang proses reproduksi manusia.

     
Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.

    
5. kemudian Kami kembalikan Dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka),

kata radadnahu terdiri atas kata radada yang dirangkaikan dengan kata ganti nama dalam bentuk jamak na dan kata ganti nama yang berkedudukan sebagai objek hu. Uraian tentang kata ganti na serupa dengan uraian sebelumnya, yang menggambarkan adanya keteribatan manusia dalam kejatuhannya ketempat yang serendah-rendahnya itu.bahkan tidak keliru jika dikatakan bahwa keterlibatannya manusia di sini amatlah besar. Sedangkan hu yang berfungsi sebagai kata ganti nama dalam kedudukan objek itu di sepakati sebagai pengganti dari kata al-insan (manusia). Radada oleh kamus-kamus bahasa diartikan sebagai “menggalihkan”, “memalingkan”, ”mengembalikan”. keseluruhan makna tersebut dapat di simpulkan sebagai “perubahan keadaan sesuatu seperti keadaan sebelumnya”atas, dasar ini, kata tersebut dapat pula diartikan “menjadikan”.
Untuk asfala safilin marilah kita telusuri pendapat para pakar tafsir tentang arti asfala safilin atau tempat serendah-rendahnya.
Paling sedikit tiga pendapat menyangkup ungkapan tersebut.
1. keadaan kelemah fisik dan psikis di saat tuanya, dikala ia masih bayi.
2. neraka dan kesengsaraan
3. Keadaan ketika Ruh Illahi belum lagi menyatu dengan diri mansia.
Manusia dan tabiatnya pada mula-mulanya adalah sejahtera tidak tamak.tetapi sesudah tergoda dengan nafsu yang jahat, dia pun menjadi yang lebih burek dari pada binatang itulah makna “Allah menggembalikan derajat yang paling rendah”.
         
6. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.


Kata illa umumnya berarti “kecuali” namun ia masih mempunyai beberapa arti lain, yakni:
1. kecuali. Arti ini ditetapkan apabila yang dikecualikan itu termasuk bagian atau jenis atau kelompok kata sebelumnya yang terkena pengecualian. Sedangkan apabila yang dikecualikan itu bukan jenis kata sebelumnya, maka arti illa menjadi “tetapi”.
2. selain. Seperti firman Allah dalam surah Al Anbiya’ ayat 22
              
22. Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah Rusak binasa. Maka Maha suci Allah yang mempunyai 'Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.

Walaupun ada beberapa arti dari kata illa selain yang telah disebut di atas- misalnya arti “demikian juga”- namun ulama tafsir hanya menetapkan satu dari dua arti, yaitu “tetapi” dan “kecuali”.
Penulisan tidak cenderung menerima pendapat tersebut, sebab penggunaan kata insan oleh Al Quran tidak terbataspada arti fisik semata-mata. Dan juga, seperti yang dikatakan di atas penulisan memahami kata illa dalam arti kecuali, yakni bahwa orang yang beriman dan beramal sholeh di kecualikan dari kejatuan kertermpat yang seendah-rendahnya itu karena ia mempertahankan kehadiran iman dalam kalbunya dan beramal soleh dalam kehidupannya keseharian.
Kata Iman biasa diartikan dengan “pembenaran hati terhadap seluruh yang di sampaikan oleh Nabi Muhammad saw.” Dengan demikian, iman tidak terbatas pada pengakuan akan keesaan Tuhan,tetapi mencangkup kebenaran tentang banyak hal. Bahkan tidak sedikit pakar yang menekankan tiga aspek pembenaran, yaitu hati , lidah, dan perbuatan.
 
….dan melakukan amal-amal soleh
Nah kini kita bertanya, apa yang dimaksud dengan amilu? Apa arti amal yang bisa diterjemahkan dengan “pekerjaan”?
Dalam kamus bahasa Al Quran, kata amal biasanya digunakan untuk “menggambarkan sesuatu aktifitas yang dilakukan dengan sengaja dan maksud tertentu”, berbeda halnya dengan kata fa’ala yang juga bisa diterjemahkan “mengerjakan” tetapi oleh Alquran kata ini di gunakannya untuk menjelaskan suatu pekerjaan, baik yang segaja maupun tidak.contoh penggunaan kata fa’ala untuk suatu pekerjaan yang di sengaja adalah firman Allah dalam surah Al haj ayat 77 :
            
Hai orang-orang yang beriman, ruku'lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.

Adapun contoh penggunaan fa’ala untuk suatu perbuatan yang tidak sengaja:
      
20. berkata Musa: "Aku telah melakukannya, sedang aku di waktu itu Termasuk orang-orang yang khilaf.

Sedangkan kalimat ash-shalihat, kata ini berbentuk jamak, tunggalnya adalah ash- shalih, dan bisa diterjamahkan “yang baik” kapan suatu pekerjaan dikatakan baik? Dengan merujuk kepada Alquran , kita dapat menyimpulkan bahwa yang baik adalah yang memenuhi pada dirinya nilai-nilai tertentu sehingga ia dapat berfungsi sesuai dengan tujuan kehadirannya, dengan kata lain, tujuan penciptaannya.
   
.......maka bagi mereka itu ganjaran yang tidak putus-putusnya
Telah dikemukakan bahwa mereka yang melakukan suatu pekerjaan – betapapun dinilai baik oleh manusia – tidak akan diterima Allah apabila amal tersebut tidak disertai keimanan dan keikhlasan kepada-Nya. Tetapi, sebaliknya mereka yang beriman dan beramal soleh akan memperoleh ganjaran sebagai yang telah di nyatakan pada yang di atas.

D. PENUTUP
Dari pemaparan diatas kita dapat menyimpulkan bahwa yang di tafsirkan dalam surah At-Tin sebagai berikut:
- At-Tin, Az-Zaitun, Thur Sinin dan Al Bald Al- Amin, . Sumpah Allah yang ada dalam Al Quran berfungsi sebagai argumentasi, karena itu, Allah memilih sesuatu yang mempunyai kaitan erat dengan kandungan sumpah-Nya. Dalam surah at tin ini
- Manusia tak menyadari keistimewaan. dia menyangka bahwa dirinya sama dengan makhluk yang lain.
- karena manusia yang dahulunya sejahtera dan tidak tamak, tetapi setelah manusia tidak kuat dengan godaan-godaan yang di buat setan maka Allah mengembakikan manusia ketempat yang paling rendah, kecuali bagi orang-orang yang jiwanya penuh iman.












DAFTAR PUSTAKA

Nasib Ar Rarifa’I, Muhammad. Ibnu Katsir. Jakarta: Gema Insani, 2000.
Quraish Shihab, Muhammad. Tafsir Al Quran Al Karim.
Bandung :Pustaka Hidayah,1997.
Nur, Majid dan Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddiqy.
Tarsir Al Quran. Semarang: Pustaka Rizki Putra, 1995.










A.PENDAHULUAN

Al-Quran merupakan kitab suci yang mulia. Kesuciannya tidak tercemari sedikit pun oleh campur tangan makhluk.kemuliannya tidak mampu di tandingi oleh semua kitabyang ada di bimi ini. Walaupun seluruh makhluk berkumpul dan membuat rekayasa untuk membuat tandingan terhadap Al Quran niscaya mereka tidak akan mampu membuatnya walaupun satu ayat.
Tidak semua orang mempunyai kemampuan untuk dapat menafsirkan ayat ayat Al Quran yang luhur dan mulia. Untuk menafsirkan ayat-ayat Al Quran ,seseorangmembutuhkan seperangkat ilmu yang cukup sehingga ia dapat menggali dan mengurai kandungan ayat- ayat tersebut.
Pada kesempatan kali ini kami akan mempresentase kandungan surah At Tin ayat 1 sampai 6. Surah ini mengandung sumpah Allah, bahwa Allah telah menciptakan keadaan dan bentuk manusia yang sangat indah dan mungkin Allah akan mengembalikannya manusia itu ke dalam keadaan yang sangat rendah. Allah telah menciptakan manusia degan fitrah yang sangat baik, namun karena mengikuti hawa nafsu, manusia terjerumus ke dalam kancah kerendahan.


B. PENGERTIAN SURAH AT-TIN
Surah At Tin adalah surah yang ke-95, setelah surah Alam Nasyrah, dari segi urutannya dalam mush-haf. Namun, dari segi urutan turunnya, surah ini merupakan wahyu ke 27 yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW.
Menurut pendapat Al Imam Muhammad Abduh, bahwa yang dimaksud dengan tin di sini ialah periode manusia yang pertama, yaitu di ketika bernaung dengan daun tin mendiami taman yang indah.Kalau demikian makna ayat ini ialah” Demi masa waktu Adam dan Hawamenutupi auratnya dengan daun Tin”.

C. TAFSIR AYAT 1- 6 SURAH AT TIN
 • 
1. demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun

Huruf wa pada kalimat wa at-tin adalah salah satu huruf yang digunakan untuk bersumpah, sebagaimana hal nya huruf ba’ dan ta’ huruf-huruf tersebut diterjemahkan “demi”.
Banyak hadis menekankan keharusan seorang muslim bersumpah dengan nama, sifat, atauperbuatan Allah dan bahwa seseorang tidak diperkenankan bersumpah atas nama makhluk, betapapun mulia dan agung orang tersebut. Tetapi, dalam surah ini dan banyak surah yang lainnya,Allah bersumpah atas nama makhluknya. Mengapa? Ada dapat mengatakan bahwa Allah bebas melakukan apa saja yang dikehendaki.
Sumpah Allah yang ada dalam Al Quran berfungsi sebagai argumentasi, karena itu, Allah memilih sesuatu yang mempunyai kaitan erat dengan kandungan sumpah-Nya. Dalam surah at tin ini Allah memilih empat hal, masing-masing At-Tin, Az-Zaitun, Thur Sinin dan Al Bald Al- Amin, .
Menurut pendapat al- Ustadzul Imam Muhammad Abduh,bahwa yang di ketahui dengan zitun di sini ialah masa xaitun , yaitu masa Nabi Nuh dan keturunannya, di ketika Allah membinasakan kaum Nuh itu dengan topan dan menyelamatkan Nuh dengan sebuah bahtera . Sudah beberapa lama masanyadatanglah burung bembawa sehelai daun zaitun.karen-Nya Nuh pun bergembira karena Allah telah mengizinkan bagi bumi meresap airnya hingga bumi itu dapat didiami kembalioleh manusia.
Ringkasnya, ti dan zaitun ini mengingatkan kita masa Adam sebagai bapak manusia yang pertamadan masa Nuh sebagai bapak manusia yang ke dua.
  
2. dan demi bukit Sinai

Dan Allah bersumpah dengan Thursina, tempat Musa bermunajat kepada Allah:
   
3. dan demi kota (Mekah) ini yang aman,

Allah bersumpah dengan Negeri tempat kelahiran Muhammad yang telah dimuliyakan dengan menempatkan al Baitul Haram di sana.
Allah bersumpah dengan 4 macam ini yang masing-masing mempunyai sejarah sendiri-sendiri dan pada ketika itulah Allah melepaskan manusia dari kegelapan untuk diantarkan mereka kepada nur cahaya.
      
4. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya .
Kata kholaqna yang artinya” telah kami ciptakan “ terdiri atas khalaqa dan na yang berfungsi sebagai kata ganti nama. Jadi kata ini terulang di dalam Al Quaran sebanyak 24 kali. Kata khalaqa antara lain berarti “menciptakan”, mengukur”, dan “mengatur”. Sedangkan kata na yang menjadi kata ganti nama itu menunjuk kepada bentuk jamak, tetapi bisa pula dipakai untuk menunjuk satu pelaku saja dengan maksud mengagumkan pelaku tersebut,para raja biasanya menunjuk dirinya dengan menggunakan kata “kami”. Allah juga sering kali menggunakan kata tersebut menunjuk diri-Nya.
Dari segi lain, penggunaan kata ganti bentuk jamak(kami) yang menunjukkan kepada Allah mengisyaratkan adanya keterlibatan selain-Nya dalam perbuatan yang di tunjukoleh kata yang dirangkaikan dengan kata ganti tersebut. Jadi khalaqna mengisyaratkan keterlibatan selain Allah dalam penciptaan manusia. Terlebih dahulu perlu kita ketahui siapa yang di maksud Al insan atau “manusia” pada ayat ke empat ayat ini, dan apa maksud ahsan taqwim .
Bahkan Bint Asy- Syathi’ merumuskan bahwa semua kata al-insan dalam Alquran yang berbentuk definite(menggunakan kata sandang al berarti menegaskan jenis manusia secara umum, mencakup siapa saja.
Kata taqwim diartikan sebagai”menjadikan sesuatu memiliki qiwam atau bntuk fisik yang pas dengan fungsinya.
Manusia tak menyadari keistimewaan yang menyangka bahwa dirinya sama dengan makhluk yang lain. Maka dari itu dia mengerjakan apa yang tidak dibenarkan oleh akal dan tidak disukai o;eh fitrahnya.
Kembali kepada persoalan khalaqa , anda mungkin bertanya, kalau demikian apakah ada pencipta selain Allah? Alquran menjawab “ada”, Allah sendiri melalui Alqran, menggaris bawahi ketika berbicara tentang proses reproduksi manusia.

     
Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.

    
5. kemudian Kami kembalikan Dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka),

kata radadnahu terdiri atas kata radada yang dirangkaikan dengan kata ganti nama dalam bentuk jamak na dan kata ganti nama yang berkedudukan sebagai objek hu. Uraian tentang kata ganti na serupa dengan uraian sebelumnya, yang menggambarkan adanya keteribatan manusia dalam kejatuhannya ketempat yang serendah-rendahnya itu.bahkan tidak keliru jika dikatakan bahwa keterlibatannya manusia di sini amatlah besar. Sedangkan hu yang berfungsi sebagai kata ganti nama dalam kedudukan objek itu di sepakati sebagai pengganti dari kata al-insan (manusia). Radada oleh kamus-kamus bahasa diartikan sebagai “menggalihkan”, “memalingkan”, ”mengembalikan”. keseluruhan makna tersebut dapat di simpulkan sebagai “perubahan keadaan sesuatu seperti keadaan sebelumnya”atas, dasar ini, kata tersebut dapat pula diartikan “menjadikan”.
Untuk asfala safilin marilah kita telusuri pendapat para pakar tafsir tentang arti asfala safilin atau tempat serendah-rendahnya.
Paling sedikit tiga pendapat menyangkup ungkapan tersebut.
1. keadaan kelemah fisik dan psikis di saat tuanya, dikala ia masih bayi.
2. neraka dan kesengsaraan
3. Keadaan ketika Ruh Illahi belum lagi menyatu dengan diri mansia.
Manusia dan tabiatnya pada mula-mulanya adalah sejahtera tidak tamak.tetapi sesudah tergoda dengan nafsu yang jahat, dia pun menjadi yang lebih burek dari pada binatang itulah makna “Allah menggembalikan derajat yang paling rendah”.
         
6. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.


Kata illa umumnya berarti “kecuali” namun ia masih mempunyai beberapa arti lain, yakni:
1. kecuali. Arti ini ditetapkan apabila yang dikecualikan itu termasuk bagian atau jenis atau kelompok kata sebelumnya yang terkena pengecualian. Sedangkan apabila yang dikecualikan itu bukan jenis kata sebelumnya, maka arti illa menjadi “tetapi”.
2. selain. Seperti firman Allah dalam surah Al Anbiya’ ayat 22
              
22. Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah Rusak binasa. Maka Maha suci Allah yang mempunyai 'Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.

Walaupun ada beberapa arti dari kata illa selain yang telah disebut di atas- misalnya arti “demikian juga”- namun ulama tafsir hanya menetapkan satu dari dua arti, yaitu “tetapi” dan “kecuali”.
Penulisan tidak cenderung menerima pendapat tersebut, sebab penggunaan kata insan oleh Al Quran tidak terbataspada arti fisik semata-mata. Dan juga, seperti yang dikatakan di atas penulisan memahami kata illa dalam arti kecuali, yakni bahwa orang yang beriman dan beramal sholeh di kecualikan dari kejatuan kertermpat yang seendah-rendahnya itu karena ia mempertahankan kehadiran iman dalam kalbunya dan beramal soleh dalam kehidupannya keseharian.
Kata Iman biasa diartikan dengan “pembenaran hati terhadap seluruh yang di sampaikan oleh Nabi Muhammad saw.” Dengan demikian, iman tidak terbatas pada pengakuan akan keesaan Tuhan,tetapi mencangkup kebenaran tentang banyak hal. Bahkan tidak sedikit pakar yang menekankan tiga aspek pembenaran, yaitu hati , lidah, dan perbuatan.
 
….dan melakukan amal-amal soleh
Nah kini kita bertanya, apa yang dimaksud dengan amilu? Apa arti amal yang bisa diterjemahkan dengan “pekerjaan”?
Dalam kamus bahasa Al Quran, kata amal biasanya digunakan untuk “menggambarkan sesuatu aktifitas yang dilakukan dengan sengaja dan maksud tertentu”, berbeda halnya dengan kata fa’ala yang juga bisa diterjemahkan “mengerjakan” tetapi oleh Alquran kata ini di gunakannya untuk menjelaskan suatu pekerjaan, baik yang segaja maupun tidak.contoh penggunaan kata fa’ala untuk suatu pekerjaan yang di sengaja adalah firman Allah dalam surah Al haj ayat 77 :
            
Hai orang-orang yang beriman, ruku'lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.

Adapun contoh penggunaan fa’ala untuk suatu perbuatan yang tidak sengaja:
      
20. berkata Musa: "Aku telah melakukannya, sedang aku di waktu itu Termasuk orang-orang yang khilaf.

Sedangkan kalimat ash-shalihat, kata ini berbentuk jamak, tunggalnya adalah ash- shalih, dan bisa diterjamahkan “yang baik” kapan suatu pekerjaan dikatakan baik? Dengan merujuk kepada Alquran , kita dapat menyimpulkan bahwa yang baik adalah yang memenuhi pada dirinya nilai-nilai tertentu sehingga ia dapat berfungsi sesuai dengan tujuan kehadirannya, dengan kata lain, tujuan penciptaannya.
   
.......maka bagi mereka itu ganjaran yang tidak putus-putusnya
Telah dikemukakan bahwa mereka yang melakukan suatu pekerjaan – betapapun dinilai baik oleh manusia – tidak akan diterima Allah apabila amal tersebut tidak disertai keimanan dan keikhlasan kepada-Nya. Tetapi, sebaliknya mereka yang beriman dan beramal soleh akan memperoleh ganjaran sebagai yang telah di nyatakan pada yang di atas.

D. PENUTUP
Dari pemaparan diatas kita dapat menyimpulkan bahwa yang di tafsirkan dalam surah At-Tin sebagai berikut:
- At-Tin, Az-Zaitun, Thur Sinin dan Al Bald Al- Amin, . Sumpah Allah yang ada dalam Al Quran berfungsi sebagai argumentasi, karena itu, Allah memilih sesuatu yang mempunyai kaitan erat dengan kandungan sumpah-Nya. Dalam surah at tin ini
- Manusia tak menyadari keistimewaan. dia menyangka bahwa dirinya sama dengan makhluk yang lain.
- karena manusia yang dahulunya sejahtera dan tidak tamak, tetapi setelah manusia tidak kuat dengan godaan-godaan yang di buat setan maka Allah mengembakikan manusia ketempat yang paling rendah, kecuali bagi orang-orang yang jiwanya penuh iman.












DAFTAR PUSTAKA

Nasib Ar Rarifa’I, Muhammad. Ibnu Katsir. Jakarta: Gema Insani, 2000.
Quraish Shihab, Muhammad. Tafsir Al Quran Al Karim.
Bandung :Pustaka Hidayah,1997.
Nur, Majid dan Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddiqy.
Tarsir Al Quran. Semarang: Pustaka Rizki Putra, 1995.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

image

Lorem ipsum dolor sit

Aliquam sit amet urna quis quam ornare pretium. Cras pellentesque interdum nibh non tristique. Pellentesque et velit non urna auctor porttitor.

image

Nunc dignissim accumsan

Vestibulum pretium convallis diam sit amet vestibulum. Etiam non est eget leo luctus bibendum. Integer pretium, odio at scelerisque congue.